Al Quran dan Budaya

Oleh: Wakhid Hasyim

Bagi umat Islam, Al Quran itu suci. Untuk “memegangnya”, seseorang harus berada dalam keadaan suci pula. Kesucian termaksud di sini tidak hanya menyangkut keadaan lahir namun juga batin. Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai bentuk suci dalam kacamata fikih, masyarakat muslim sepakat tentang posisi mulia Al Quran. Dalam tadisi Islam, mushaf selalu diletakkan di tempat tinggi, tidak digeletakkan begitu saja di lantai. Jikapun dalam tumpukan dengan buku lain, posisinya selalu berada paling atas. Berbagai upaya lain juga dilakukan untuk mencegah tindakan pelecehan terhadap Al Quran. Misalnya, larangan untuk mengirim atau menjual Al Quran kepada non muslim, terlebih jika mereka secara nyata memusuhi Islam.[1]

Peran  penting Al Quran dalam masyarakat Islam tidak hanya bisa dilihat dari sakralnya mushaf. Secara sadar atau tidak, keseharian masyarakat Islam terpengaruh oleh berbagai ungkapan dalam Al Quran. Contohnya, ketika ada orang meninggal secara refleks seorang muslim akan mengucapkan kalimat inna lillahi wa inna ilaihi roji’un (sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan hanya kepada-Nya kami kembali). Selain itu, ada juga kalimat lain seperti in sya Allah (jika Tuhan berkehendak), ma sya Allah (apa yang dikehendaki Tuhan telah terjadi), al hamdu lillah (segala puji hanya milik Allah), dan bismillah (dengan nama Allah).[2]

Kedekatan muslim dengan Al Quran terbilang wajar. Meminjam istilah Muhammad Abed al-Jabiri, Al Quran adalah salah satu sebab utama yang membuat budaya Arab menjadi salah satu dari tiga budaya besar dunia (selain Yunani dan Eropa Modern). Kebudayaan yang menurutnya tidak hanya “berpikir dengan akal” (at-tafkir bi al-aql) tetapi juga “berpikir tentang akal” (at-tafkir fi al-aql).[3]

Sikap kitab suci dalam membentuk iklim untuk berpikir menjadi salah satu sumbangsih terbesar yang diberikan Al Quran. Menurut pendapat Prof. Quraish Shihab, terdapat beberapa ulama yang berusaha membuktikan bukti-bukti ilmiah yang terdapat dalam Al Quran. Beberapa bahkan ada yang terkesan memaksakan. Meskipun demikian, menurut beliau, salah satu sumbangan besar yang diberikan Al Quran terhadap ilmu pengetahuan adalah petunjuk pola pikir ilmiah. Quraish Shihab beranggapan bahwa panduan cara berpikir dalam ayat-ayat Al Quran telah menciptakan iklim ilmu pengetahuan. Iklim inilah yang kemudian melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar muslim pada masanya. Selain tentu saja harus diakui bahwa terdapat banyak sekali isyarat-isyarat ilmiah yang tersebar dalam ayat-ayat Al Quran. Sehingga, sudah sepantasnya jika ayat-ayat Al Quran dikaji dan dicermati oleh ilmuwan dengan berbagai macam disiplin keilmuan. Tidak hanya dimonopoli oleh para ahli dalam bidang tertentu saja. Mengingat luasnya kandungan makna yang termuat di dalam ayat-ayat Al Quran.[4]

Al Quran dahulu turun di Makkah dan Madinah dengan latar belakang budaya Arab. Saat ini Islam sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Sebelum Islam datang ke salah satu daerah baru, masyarakat setempat tentu sudah memiliki budaya tertentu. Melihat peran penting Al Quran dalam kehidupan umat Islam terutama dalam pembentukan budayanya, bagaimanakah kemudian nasib budaya setempat sebelum kedatangan Islam? Mengingat wahyu Allah tidak lagi turun; berbeda dengan zihar seperti diceritakan dalam pembukaan bab pertama buku ini, yang bisa ditanyakan langsung kepada Nabi untuk kemudian mengharap turunnya keterangan dari Allah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Jabiri, Muhammad Abed al-. Formasi Nalar Arab. Diterjemahkan oleh Imam Khoiri. Yogyakarta: IRCiSoD, 2014.

Mattson, Ingrid. Ulumul Quran Zaman Kita. Jakarta: Zaman, 2013.

Shihab, Quraish. Membumikan Al-Quran. Bandung: Penerbit Mizan, 2014.

 

[1] Ingrid Mattson, Ulumul Quran Zaman Kita (Jakarta: Zaman, 2013). Hlm. 224-234.

[2] Ibid. Hlm. 240-254.

[3] Muhammad Abed al-Jabiri, Formasi Nalar Arab, trans. oleh Imam Khoiri (Yogyakarta: IRCiSoD, 2014). Hlm. 32.

[4] Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran (Bandung: Penerbit Mizan, 2014). Hlm. 152-169.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *