Mahabbah dalam Musibah – MUTIARA JUMAT

Mahabbah dalam Musibah – MUTIARA JUMAT – Beberapa waktu belakangan ini, dunia – khususnya Indonesia – sedang dirundung duka. Pandemi belum tahu kapan akan selesai; banyak ulama mendahului kita sowan ke hadirat-Nya; belum lagi, bencana alam terjadi di banyak tempat. Termutakhir, Indonesia sedang berduka sebab gempa bumi di Sulawesi, banjir di Kalimantan, serta tanah longsor di Jawa Barat

mutiara jumat

.

Menyikapi bencana yang menimpa, respons masyarakat berbeda-beda. Ada yang tetap tegar dan berpikir positif, tak sedikit yang mulai mencari penyebab atau lebih tepatnya “kambing hitam”. Lalu, bagaimana sebaiknya sikap kita sebagai seorang muslim?

Alkisah, seorang pemuda datang ke sebuah perjamuan. Ia bersama teman-temannya mengantre untuk mendapatkan perjamuan yang diambilkan oleh perempuan cantik di ujung sana. Namun, tak seperti teman-temannya, piring pemuda tadi dibanting ketika disodorkan.

Semua tamu tersentak kaget, heran dengan apa yang terjadi. Respons yang wajar melihat janggalnya kejadian itu. Seorang pemuda dipermalukan di depan umum oleh perempuan yang pernah, atau bahkan masih, menjadi pujaan hatinya. Justru yang aneh adalah ekspresi pemuda tadi. Wajahnya justru berbinar menampakkan kebahagiaan.

Sebagian pembaca mungkin sudah pernah membaca atau mendengar kisah tersebut. Kisah Qais dan Laila dalam “Laila Majnun”. Catatan paling menarik dari penggalan kisah ini adalah jawaban Qais ketika ditanya, kenapa ia tidak marah, justru terlihat bahagia setelah dihina oleh Laila, perempuan cantik yang membanting piringnya.

“Aku kok tidak merasa Laila ingin mempermalukanku. Tujuannya membanting piringku agar aku kembali ke antrean sehingga kami bisa berlama-lama saling memandang untuk melepas rindu,” begitulah kurang lebih jawaban dari Qais.

Kisah ini sering dijadikan rujukan para ahli tasawuf mengenai sikap seorang hamba kepada Tuhannya. Bisa jadi, musibah yang diberikan atau tertundanya pengabulan doa kita adalah wujud kecintaan Allah kepada makhluk-Nya. Ia ingin berlama-lama melihat kita berdoa, mendekatkan diri kepada-Nya.

Jangan sampai kita salah paham yang berujung pada kesalahan dalam menyikapi keadaan. Alih-alih mendekat, kita justru merutuk dan menjauh dari-Nya.

Apa jadinya, jika Qais dalam kisah tadi marah ketika piringnya dibanting kemudian pergi meninggalkan perjamuan? Keinginan Laila untuk melepas rindu tentu tak jadi kenyataan.

Begitu juga kita dalam menyikapi keadaan saat ini. Jika karena pandemi ini kita justru menjadi jauh dengan Sang Pencipta, peluang kita untuk mendekat kepada-Nya justru semakin memudar.

Bisa jadi, musibah yang menimpa kita adalah cara Allah untuk berkomunikasi, menghentikan perbuatan salah kita, atau justru menghapus dosa-dosa kita.

itulah mutiara jumat yang dapat kita pelajari hari ini

Wallahu a’lam.

Wakhid Hasyim

Guru Sejarah Kebudayaan Islam MAN 1 Yogyakarta

085292762211

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *